saya kali ini pengin mengisi blog saya dengan copy-paste.
…
One Day at Musolah
Suatu hari, di Cilincing, saya ketemu dengan Mas Kabul, kakak kelas
saya dulu. Waktu itu, saya sedang membantu anak-anak musolah membuat
bulletin jumat, koran-koranan yang diedarkan pada setiap hari jumat
sebelum solat jumat.
Wah betapa bangganya saya ketemu Mas Kabul ketika sedang membantu
anak-anak musolah merancang dan menerbitkan bulletin jumat. Hati saya
berdegup kencang karena jumawa. Dalam hati, saya bilang, ‘ini waktunya
gue nyombong ama Mas Kabul’. Saya ingin menunjukkan pada Mas Kabul,
bahwa saya ini sudah ‘pintar’ dan ‘rendah hati’.
Jelas pintar dan rendah hatinya pakai tanda kutip. Sebab saya ingin
menunjukkan kehebatan saya kepadanya. Saya ingin sombong. Saya ingin
dianggap hebat oleh Mas Kabul. Rasa ingin dipuja tiba-tiba meruyak
begitu saja.
Dan mata saya semakin berbinar-binar melihat Mas Kabul terkagum-kagum
melihat software canggih di komputer kami. Ketika ia melihat anak-anak
musolah pandai sekali memainkan alat bernama keyboard dan mouse untuk
membuat bulletin jumat. Hidung saya kembang kempis karena bangga.
Lalu Mas Kabul bertanya, “Loh Rip. Musolah kampung ini kaya sekali.
Bisa membeli perangkat lunak dan program mahal di komputer ini. Ndak
mubazir?”
Saya kaget.
Bukan karena ia bertanya sambil make sarung dan sarungnya mau melorot
copot. Tapi kaget karena pertanyaannya aneh.
- “Mas Kabul, sistem windows dan word kan murah. Lima ribu perak doang per CD”
+ “Itu bajakan rip”
- “Tapi kan nggak apa-apa demi mencerdaskan anak bangsa. Sistem
komputer bajakan ini punya Bill Gates, bos perusahaan komputer. Orang
paling kaya sedunia, Mas. Dan dunia ini sudah sedemikian kapitalis.
Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin dan bodoh. Bukan
karena tidak mau belajar, tapi sistemlah yang memaksa orang miskin
menjadi bodoh”
Mulut saya makin berapi-api. Memberikan kuliah pada Mas Kabul. Namun
isinya bukan menekankan betapa pentingnya pendidikan buat anak bangsa.
Melainkan, saya membela harga diri saya yang nampaknya akan hancur
lebur di hadapan anak muda musolah.
Saya bawa semua teori. Mulai dari teori kepemilikan marxis hingga
ayat-ayat quran yang sosialis. Semuanya demi membela harga diri saya
yang benar-benar berantakan akibat Mas Kabul bilang bahwa komputer
musolah yang kami pakai ‘dipertanyakan kehalalannya’.
Mas Kabul diam saja. Dengan tenang ia menjawab semua logika saya dalam
kalimat “Rip, liat tuh tulisan KEBERSIHAN SEBAGIAN DARI IMAN di WC
musolah. Liat ga? Itu ajakan untuk berbuat kebaikan, Rip. Semua orang
juga mengerti artinya. Tapi coba kamu pikir, gimana kalau tulisan
untuk berbuat kebaikan ternyata ditulis pakai barang curian? Gimana
kalau itu ditulis pakai spidol dan papan colongan?”
Saya tidak bisa menjawab. Analogi Mas Kabul menusuk kalbu.
Saya diam cukup lama. Muka saya merah padam menanggung malu. Harga
diri saya hancur lebur lantak tak bersisa. Maksud hati ingin di puja
ternyata malah menanggung malu yang luar biasa.
Di depan ‘murid-murid musolah’, saya salah tingkah. Tidak tahu harus
berbuat apa. Rasanya pengen kabur sejauh-jauhnya. Maluuu..
Setelah lama terdiam. Mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang secuil di
hati, saya beranikan diri bertanya.
- “Mas, saya malu. Maaf. Saya takabur. Jadi apa yang semestinya saya
ajarin buat anak musolah, Mas Kabul”
+ “Kalau kamu tidak tahu alternatifnya. Tidak apa-apa, Rip”
- “Loh apakah ada cara belajar komputer alternatif tanpa harus jadi
maling, Mas?”
+ “Ada… Pakai Linux”
Sejak saat itu, saya berguru pada Mas Kabul. Berguru menggunakan
Linux. Cukup susah. Sebab tampilannya masih memakai Terminal, mirip
komputer purbakala.
Namun tahun berganti. Linux tidak lagi mirip komputer zaman
dinosaurus. Sudah ada sistem komputer Linux yang cantik dan ramah
bernama Ubuntu. Dan yang paling penting adalah, mudah digunakan, sebab
menggunakan tampilan berbahasa Indonesia.
Bahkan kini, beberapa pemuda nan pintar dari Indonesia sudah membuat
Sistem Operasi komputer nan canggih namun mudah digunakan berbasis
Ubuntu. Nama sistem operasinya, BlankON.
Beberapa hari di awal-awal tahun 2008 ini, saya kok keingetan Mas
Kabul. Ketika saya belajar Linux, beliau pernah berkata pada saya
“Rip, belajar Linux itu tidak hanya membuat kamu tambah pinter. Dan
bahkan tidak pula hanya mengurangi dosa dengan tidak memakai barang
curian. Tapi juga menghargai orang-orang yang telah bekerja keras
membuat sopwer”.
Saya tiba-tiba punya mimpi. Muluk-muluk mimpinya. Saya kepingin punya
sekolah yang mengajarkan Linux pada anak-anak Indonesia. Bukan karena
strategi bisnis. Atau apalagi niat jumawa bin takabur seperti kasus di
musolah bertahun-tahun lalu. Saya hanya kepingin, anak-anak Indonesia
punya ‘pilihan’.
Dari Mas Kabul, saya belajar bahwa dalam hidup manusia berhak punya pilihan.
Dan alam sadar ini terbawa-bawa dalam mimpi. Saya ingin juga anak-anak
Indonesia generasi mendatang punya pilihan.
Diantaranya; termasuk memilih untuk tidak menjadi pencuri.
Saya terus bermimpi.
Semakin lama, mimpi ini semakin mengganggu tidur saya.
….
Selengkapnya di
:http://ekobs.multiply.com/journal/item/38/Mushola_komputer_dan_maling